Wellcome to My Blog

Semoga bermanfaat bagi anda...

Wellcome to My Blog

Semoga bermanfaat bagi anda...

Wellcome to My Blog

Semoga bermanfaat bagi anda...

Wellcome to My Blog

Semoga bermanfaat bagi anda...

Wellcome to My Blog

Semoga bermanfaat bagi anda...

Tampilkan postingan dengan label artikel islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel islami. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2016

Download kajian Umum Oleh Buya Yahya


بسم الله الرحمنِ الرحيم. الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين     
       MP3 pengajian umum ini merupakan rekaman kajian rutin bersama guru kita Buya Yahya Zainul Ma’arif, pengasuh pondok pesantren Al Bahjah (Jl. Pangeran Cakrabuana Blok Gudang Air No. 179 Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kontak Pustaka Al Bahjah: 081312131936). Kajian ini juga disiarkan langsung oleh Radio Islam Ahlussunnah RADIOQU 98.5 FM Cirebon. Semoga MP3 kajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua agar mendapatkan ilmu serta hikmah yang banyak terkandung di dalamnya.

Profil Buya Yahya 

     Sebelum ke Yaman Pendidikan dasar hingga SMP diselesaikan dikota kelahirannya. Disamping itu juga mengambil pendidikan agama di Madrasah Diniyah yang dipimpin oleh seorang guru yang soleh KH. Imron Mahbub di Blitar. Setelah itu melanjutkan pendidikannya di pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil Pasuruan Jatim dibawah asuhan Al Murobbi Al Habib Hasan Bin Ahmad Baharun, yaitu pada tahun 1988 hingga 1993. Pada tahun 1993 hingga 1996 mengajar dipesantren Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan sebagai masa khidmah Buya Yahya ke pesantren tempat Buya Yahya pernah menimba ilmu.. Pada tahun 1996 berangkat ke Univ. Al-Ahgaff atas perintah sang guru Al-Murobbi Al-Habib Hasan Baharun hingga akhir 2005.
     Buya Yahya selama 9 tahun di Yaman belajar fiqih diantaranya kepada para Mufti Hadramaut Syekh Fadhol Bafadhol, Syekh Muhammad Al Khotib, Syekh Muhammad Baudhon, dan Habib Ali Masyur Bin Hafidz.
     Dari Habib Salim Asysyatiri Buya Yahya sempat mengambil beberapa disiplin ilmu diantaranya fiqih, aqidah, ulummul quran dan mustholah alhadits. Biarpun Buya Yahya tidak tinggal dipesantren (Rubath) Habib Salim Asysyathri Buya Yahya mendapatkan kesempatan yang sangat banyak untuk belajar dari beliau. Sebab dipagi hari Habib Salim mengajar di kampus dan sore hari hingga malam Buya Yahya mendapatkan waktu khusus selama hampir 2 tahun untuk belajar dari beliau 4 kali dalam seminggu mulai ashar hingga isya di Rubath Tarim.
     Hadits dan ilmu haditsnya di ambil dari beberapa guru diantaranya adalah Dr Ismail Kadhim Al Aisawi dan Secara khusus Ilmu ushul fiqihnya diambil dari beberapa pakarnya diantaranya; Syekh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi, Syekh Muhammad Amin Assyingqiti dan Syekh Abdullah Walad Aslam Assyingqiti (semuanya adalah dari Syingqiti–Mortania yang mereka adalah para ulama dalam Madhab Maliki) dan DR Mahmud Assulaimani dari Mesir.
     Ilmu bahasa Arabnya di ambil dari Syekh Muhammad Alhafid Assyingqiti, dengan kitab terakhir yang di kaji adalah Thurah Uquduljuman dalam ilmu balaghoh, thurroh lamiyatul afal dalam ilmu shorof dan thurroh Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu yaitu Alfiyah Ibnu Malik dengan tambahannya menjadi 2800 nadhom. Ilmu fiqih perbandinganya diambil diantaranya dari Prof DR. Ahmad Ali Toha Arroyyan dari Mesir seorang Alim dari madhab maliki.
     Buya Yahya sempat mengajar di Yaman selama 3 tahun di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Islamiah (khusus putri) Universitas Al-Ahgaff. Sekarang Buya Yahya aktif berdakwah di masyarakat dan mengasuh majelis Al-Bahjah dan pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Kabupaten Cirebon Jawa Barat.
Guru-guru  Buya Yahya.
     Ada dua guru murobbi Buya Yahya yang sangat mempengaruhi didalam perjalanan ilmiyah Buya Yahya. Yang pertama adalah Almurobbi Almursyid Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun pengasuh dan pendiri Pon-pes Darullughoh Waddakwah Bangil-Pasuruan-Jawa Timur. Yang kedua adalah Almurobbi Almursyid Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun rektor universitas Al Ahgaff Republik Yaman. Buya Yahya mempunyai sanad ilmu dari guru-guru yang sangat jelas. Selain dari murobbi dan mursidnya tersebut guru Buya Yahya amat banyak , diantaranya adalah :
–    A-Dari indonesia.
–    1-Habib Husin bin Soleh Almuhdhor, Bondowoso
–    2-Habib Qosim Bin Ahmad Baharun, Bangil
–    3-Habib Ahmad bin Husin Assegaf, Bangil.
–    4-Ust Qoimuddin Abdullah, Bangil
–    5-Habib Soleh bin ahmad Alidrus, Malang
–    6-Habib Abdullah Maulahailah, Malang.
–    7-Habib Muhammad Alhaddad, Malang
–    8-Ust Nasihin, Bangil.
–    9- KH Imron Mahbub, Blitar.dll
–    B-Dari Luar Negri.
–    1- Habib Idrus bin Umar Alkaf, Tarim,Yaman
–    2- Syekh Fadhol Bafadhol, Tarim,Yaman
–    3- Syekh Muhammad Al Khotib, Tarim,Yaman
–    4- Syekh Muhammad Baudhon, Tarim, Yaman
–    5- Habib Ali Masyur bin Hafidz, Tarim,Yaman
–    6- DR. Ismail Kadhim Al-Aisawi, Iraq.
–    7- Habib Salim Asysyathri Tarim,Yaman
–    8- Syeh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi, Mortania.
–    9- Syeh Muhammad Amin Assyingqiti, Mortania.
–    10-Syeh Abdullah Walad Aslam Assyingqiti, Mortania .
–    11-DR Mahmud Assulaimani, Mesir.
–    12- Prof DR. Ahmad Ali Toha Arroyyan Mesir.
–    13-Dll.


Download :
01. Abadikan Amal dengan Ikhlas_Disc_1
02. Abadikan Amal dengan Ikhlas_Disc_2
03. Ahmadiyah_1
04. Ahmadiyah_2
05. Anak_Melanggar_Disc_1
06. Anak_Melanggar_Disc_2
07. Apa dan siapa salaf dan Salafi_1
08. Apa dan siapa salaf dan Salafi_2
09. Bid'ah_1
10. Bid'ah_2
11. Cinta_Dunia_1
12. Cinta_Dunia_2
13. Dakwah kpd Keluarga_1
14. Dakwah kpd Keluarga_2
15. Fiqh Praktis Puasa_1
16. Fiqh Praktis Puasa_2
17. Gapai Harapan & Keindahan Dengan Berdo'a_1
18. Gapai Harapan & Keindahan Dengan Berdo'a_2
19. Hati_Disc_1~1
20. Hati_Disc_2~1
21. Hidup Indah bersama Rasulullah_1
22. Hidup Indah bersama Rasulullah_2
23. Hidup Indah bersama Rasulullah_3
24. Hidup Indah dengan berbakti kpd orang Tua Disc_1
25. Hidup Indah dengan berbakti kpd orang Tua Disc_2
26. Hidupkan_Sunnah_1
27. Hidupkan_Sunnah_2
28. Indahnya Mengingat Kematian
29. Indahnya Menyambung Silaturahmi_1
30. Indahnya Menyambung Silaturahmi_2
31. Isra Mi'raj_1
32. Isra Mi'raj_2
33. Kefakiran yang Tersembunyi Tamak_1
34. Kefakiran yang Tersembunyi Tamak_2
35. Kemuliaan Wanita Dalam Islam (Menyikapi RUU Kesetaraan Gender) 1
36. Kemuliaan Wanita Dalam Islam (Menyikapi RUU Kesetaraan Gender) 2
37. Kisah Imam Husain_Merajut Syahid Karbala Disc_1
38. Kisah Imam Husain_Merajut Syahid Karbala Disc_2
39. Membahas Tuntas Aqidah Syiah_1
40. Membahas Tuntas Aqidah Syiah_2
41. Mempersiapkan Keharmonisan Rumah Tangga Disc_1
42. Mempersiapkan Keharmonisan Rumah Tangga Disc_2
43. Menghilangkan Sifat Dengki_1
44. Menghilangkan Sifat Dengki_2
45. Menghilangkan Sifat Sombong_Disc_1
46. Menghilangkan Sifat Sombong_Disc_2
47. Mudzakarah_Buya Yahya & Prof Salim Bajri_1
48. Nafkah_1
49. Nafkah_2
50. Pendidikan Anak Pubertas_1
51. Pendidikan Anak Pubertas_2
52. Tawasul & Ziarah Kubur Episode_1_1
53. Tawasul & Ziarah Kubur Episode_1_2
54. Tawasul & Ziarah Kubur Episode_2_1
55. Tawasul & Ziarah Kubur Episode_2_2
56. Zakat adalah Amanah

Download Kajian Kitab At-Tibyan Oleh Buya Yahya Part 1

بسم الله الرحمنِ الرحيم. الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين     
       MP3 kajian kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an ini merupakan rekaman kajian rutin bersama guru kita Buya Yahya Zainul Ma’arif, pengasuh pondok pesantren Al Bahjah (Jl. Pangeran Cakrabuana Blok Gudang Air No. 179 Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kontak Pustaka Al Bahjah: 081312131936). Sebelum anda mengikuti kajian kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an ini sebaiknya anda download dulu E-book kitab tersebut yang sudah kami sediakan untuk anda dengan harapan sambil mendengarkan kajiannya juga menyimak langsung kitabnya agar lebih bermanfaat dan lebih mudah untuk dipahami dan diikuti. 

DOWNLOAD EBOOK KITAB AT TIBYAN IMAM NAWAWI DI SINI (PDF)

Profil Buya Yahya 

     Sebelum ke Yaman Pendidikan dasar hingga SMP diselesaikan dikota kelahirannya. Disamping itu juga mengambil pendidikan agama di Madrasah Diniyah yang dipimpin oleh seorang guru yang soleh KH. Imron Mahbub di Blitar. Setelah itu melanjutkan pendidikannya di pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil Pasuruan Jatim dibawah asuhan Al Murobbi Al Habib Hasan Bin Ahmad Baharun, yaitu pada tahun 1988 hingga 1993. Pada tahun 1993 hingga 1996 mengajar dipesantren Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan sebagai masa khidmah Buya Yahya ke pesantren tempat Buya Yahya pernah menimba ilmu.. Pada tahun 1996 berangkat ke Univ. Al-Ahgaff atas perintah sang guru Al-Murobbi Al-Habib Hasan Baharun hingga akhir 2005.
     Buya Yahya selama 9 tahun di Yaman belajar fiqih diantaranya kepada para Mufti Hadramaut Syekh Fadhol Bafadhol, Syekh Muhammad Al Khotib, Syekh Muhammad Baudhon, dan Habib Ali Masyur Bin Hafidz.
     Dari Habib Salim Asysyatiri Buya Yahya sempat mengambil beberapa disiplin ilmu diantaranya fiqih, aqidah, ulummul quran dan mustholah alhadits. Biarpun Buya Yahya tidak tinggal dipesantren (Rubath) Habib Salim Asysyathri Buya Yahya mendapatkan kesempatan yang sangat banyak untuk belajar dari beliau. Sebab dipagi hari Habib Salim mengajar di kampus dan sore hari hingga malam Buya Yahya mendapatkan waktu khusus selama hampir 2 tahun untuk belajar dari beliau 4 kali dalam seminggu mulai ashar hingga isya di Rubath Tarim.
     Hadits dan ilmu haditsnya di ambil dari beberapa guru diantaranya adalah Dr Ismail Kadhim Al Aisawi dan Secara khusus Ilmu ushul fiqihnya diambil dari beberapa pakarnya diantaranya; Syekh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi, Syekh Muhammad Amin Assyingqiti dan Syekh Abdullah Walad Aslam Assyingqiti (semuanya adalah dari Syingqiti–Mortania yang mereka adalah para ulama dalam Madhab Maliki) dan DR Mahmud Assulaimani dari Mesir.
     Ilmu bahasa Arabnya di ambil dari Syekh Muhammad Alhafid Assyingqiti, dengan kitab terakhir yang di kaji adalah Thurah Uquduljuman dalam ilmu balaghoh, thurroh lamiyatul afal dalam ilmu shorof dan thurroh Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu yaitu Alfiyah Ibnu Malik dengan tambahannya menjadi 2800 nadhom. Ilmu fiqih perbandinganya diambil diantaranya dari Prof DR. Ahmad Ali Toha Arroyyan dari Mesir seorang Alim dari madhab maliki.
     Buya Yahya sempat mengajar di Yaman selama 3 tahun di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Islamiah (khusus putri) Universitas Al-Ahgaff. Sekarang Buya Yahya aktif berdakwah di masyarakat dan mengasuh majelis Al-Bahjah dan pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Kabupaten Cirebon Jawa Barat.
Guru-guru  Buya Yahya.
     Ada dua guru murobbi Buya Yahya yang sangat mempengaruhi didalam perjalanan ilmiyah Buya Yahya. Yang pertama adalah Almurobbi Almursyid Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun pengasuh dan pendiri Pon-pes Darullughoh Waddakwah Bangil-Pasuruan-Jawa Timur. Yang kedua adalah Almurobbi Almursyid Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun rektor universitas Al Ahgaff Republik Yaman. Buya Yahya mempunyai sanad ilmu dari guru-guru yang sangat jelas. Selain dari murobbi dan mursidnya tersebut guru Buya Yahya amat banyak , diantaranya adalah :
–    A-Dari indonesia.
–    1-Habib Husin bin Soleh Almuhdhor, Bondowoso
–    2-Habib Qosim Bin Ahmad Baharun, Bangil
–    3-Habib Ahmad bin Husin Assegaf, Bangil.
–    4-Ust Qoimuddin Abdullah, Bangil
–    5-Habib Soleh bin ahmad Alidrus, Malang
–    6-Habib Abdullah Maulahailah, Malang.
–    7-Habib Muhammad Alhaddad, Malang
–    8-Ust Nasihin, Bangil.
–    9- KH Imron Mahbub, Blitar.dll
–    B-Dari Luar Negri.
–    1- Habib Idrus bin Umar Alkaf, Tarim,Yaman
–    2- Syekh Fadhol Bafadhol, Tarim,Yaman
–    3- Syekh Muhammad Al Khotib, Tarim,Yaman
–    4- Syekh Muhammad Baudhon, Tarim, Yaman
–    5- Habib Ali Masyur bin Hafidz, Tarim,Yaman
–    6- DR. Ismail Kadhim Al-Aisawi, Iraq.
–    7- Habib Salim Asysyathri Tarim,Yaman
–    8- Syeh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi, Mortania.
–    9- Syeh Muhammad Amin Assyingqiti, Mortania.
–    10-Syeh Abdullah Walad Aslam Assyingqiti, Mortania .
–    11-DR Mahmud Assulaimani, Mesir.
–    12- Prof DR. Ahmad Ali Toha Arroyyan Mesir.
–    13-Dll.
Download :
1.
At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 15 Agustus 2010
2. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 16 Agustus 2010
3. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 17 Agustus 2010
4. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 19 Agustus 2010
5. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 20 Agustus 2010
6. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 22 Agustus 2010
7. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 24 Agustus 2010
8. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 25 Agustus 2010
9. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 27 Agustus 2010
10. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 28 Agustus 2010
11. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 10 Juli 2013
12. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 11 Juli 2013
13. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 12 Juli 2013
14. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 13 Juli 2013
15. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 14 Juli 2013
16. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 15 Juli 2013
17. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 16 Juli 2013
18. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 17 Juli 2013
19. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 18 Juli 2013
20. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 19 Juli 2013
21. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 20 Juli 2013
22. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 21 Juli 2013
23. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 22 Juli 2013
24. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 23 Juli 2013
25. At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’An Imam An-Nawawi- 24 Juli 2013

Minggu, 24 Juli 2016

DOWNLOAD E-BOOK ISLAM DENGAN SUNNAH DAN BID’AH HASANAH


       Telah ramai pada akhir zaman ini dengan berbagai adu argumentasi tentang ada atau tidaknya Bid’ah hasanah serta jikalau ada maka baik atau tidaknya hal tersebut dilaksanakan kaum muslimin. Namun semua hal yang diperdebatkan tersebut hanyalah merupakan bagian furu’ ( cabang ) dari hasil – hasil ijtihad dari para ‘ulama, yang tidak seharusnya menimbulkan perpecahan di tubuh kaum muslimin. Dan juga sebaiknya dalam menyikapinya adalah dengan sikap saling menghormati, dengan tidak ‘mengklaim’ kebenaran hanya ada pada satu pihak. Maka dari itu hadirlah E-Book ini dalam menjawab beberapa pertanyaan seputar dalil pijakan dalil dalam menghidupkan Islam dengan Sunnah dan Bid’ah Hasanah, sehingga kita tidak antipati kepada sesama saudara Muslim. 

Download E-Book ( Chm )




Sumber : Pustaka E-Book Sunni Salafiyah - KTB

Sabtu, 27 Februari 2016

Download Keputusan Bahtsul Masail Maudhu’iyah PWNU Jawa Timur Tentang Islam Nusantara

Keputusan Bahtsul Masail Maudhu’iyah
PWNU Jawa Timur Tentang Islam Nusantara
di Universitas Negeri Malang
13 Februari 2016
  1. Mukadimah
  2. Pembahasan
  3. Maksud Islam Nusantara
  4. Metode Dakwah Islam Nusantara
  5. Landasan dalam Menyikapi Tradisi/Budaya
    a. Ayat al-Qur’an dan hadits yang Redaksinya Mengakomodir Tradisi/Budaya Masyarakat
    b. Pengakomodiran Tradisi/Budaya Jahiliyah Menjadi Ajaran Islam
    c. Pendekatan Terhadap Tradisi/Budaya
    d. Melestarikan Tradisi/Budaya Yang Menjadi Media Dakwah
  6. Sikap dan Toleransi Terhadap Pluralitas Agama dan Pemahaman Keagamaan
    a. Sikap Terhadap Pluralitas Agama
    b. Toleransi Terhadap Agama Lain
    c. Toleransi Terhadap Pemahaman Keagamaan Selain Ahlusssunnah wal Jama’ah
  7. Konsistensi Menjaga Persatuan Bangsa untuk Memperkokoh Integritas NKRI
Musahih:
  1. Syafruddin Syarif
    KH. Romadlon Khotib
    KH. Marzuki Mustamar
    KH. Farihin Muhson
    KH. Muhibbul Aman Ali
Perumus:
  1. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I.
    H. Azizi Hasbulloh
    H. MB. Firjhaun Barlaman
    H. Athoillah Anwar
    H. M. Mujab, Ph.D
Moderator:
Ahmad Muntaha AM
Notulen:
H. Ali Maghfur Syadzili, S.Pd.I.
H. Syihabuddin Sholeh
H. Muhammad Mughits
Ali Romzi
ISLAM NUSANTARA
Islam-Nusantara LBM
  1. Mukadimah
Pakar sejarah Ibn Khaldun (1332-1406 M) dalam karyanya, Muqaddimah (37-38) mengatakan:
أَنَّ أَحْوَالَ الْعَالَمِ وَالْأُمَمِ وَعَوَائِدَهُمْ وَنِحَلَهُمْ لَا تَدُومُ عَلىٰ وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ وَمِنْهَاجٍ مُسْتَقِرٍّ، إِنَّمَا هُوَ اخْتِلَافٌ عَلىٰ الْأَيَّامِ وَالْأَزْمِنَةِ، وَانْتِقَالٌ مِنْ حَالٍ إِلىٰ حَالٍ. وَكَمَا يَكُونُ ذٰلِكَ فِي الْأَشْخَاصِ وَالْأَوْقَاتِ وَالْأَمْصَارِ، فَكَذٰلِكَ يَقَعُ فِي الْآفَاقِ وَالْأَقْطَارِ وَالْأَزْمِنَةِ وَالدُّوَلِ سُنَّةُ اللهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ.
“Sungguh keadaan dunia, bangsa-bangsa, adat-istiadat dan keyakinan mereka tidak selalu mengikuti satu model dan sistem yang tetap, melainkan selalu berbeda-beda (berubah) seiring perjalanan hari dan masa, berpindah dari satu kondisi menuju kondisi lainnya. Sebagaimana hal itu terjadi pada manusia, waktu, dan kota, di berbagai kawasan, zaman, dan negeri juga terjadi/berlangsung sunnah Allah (sunnatullah) yang telah terjadi pada hamba-hambaNya.”
Di bumi Nusantara (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI) terdapat tradisi dan budaya dalam sistem pengimplementasian ajaran agama, sehingga hal itu menjadi ciri khas Islam di Nusantara yang tidak dimililiki dan tidak ada di negeri lain. Perbedaan tersebut sangat tampak dan dapat dilihat secara riil dalam beberapa hal, antara lain:
1. Dalam implementasi amalan Islam di Nusantara ada tradisi halal bihalal setiap tahun, haul, silaturrahim setiap hari raya (Idul Fitri), hari raya ketupat, baca solawat diiringi terbangan, sedekahan yang diistilahkan selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, tingkepan, sepasaran bayi, sepasaran pengantin, arak-arak pengantin yang meliputi undang mantu, ngunduh mantu, sekaligus diadakan Walimatul ‘Urs baik oleh keluarhga wanita maupun keluarga laki-laki,dan tradisi lainnya.
2. Dalam hal berpakaian ada yang memakai sarung, berkopyah, pakaian adat Betawi, Jawa, Papua, Bali, Madura, dan masih banyak model pakian adat lain, terutama telihat dalam pakian pernikahan dimana pengantin dirias dan dipajang di pelaminan, dan lain sebagainya.
  1. Dalam hal toleransi pengamalan ajaran Islam, ada yang solat Id di lapangan, di masjid, musalla, bahkan ada hari raya dua kali. Ada yang shalat tarawih 20 rakaat, ada pula yang delapan rakaat. Di antara pelaksanaan tarawih ada yang memisahnya dengan taradhi bagi empat al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dengan shalawat, dan ada yang memisahnya dengan doa. Dalam acara akikah ada yang diisi dengan shalawatan, dan ada yang diisi tahlilan, dan selainnya.
  2. Dalam hal toleransi dengan budaya yang mengandung sejarah atau ajaran, ada di sebagian daerah dilarang menyembelih sapi seperti di Kudus Jawa tengah yang konon merupakan bentuk toleransi Sunan Kudus pada ajaran Hindu yang menyucikannya, adat pengantin dengan menggunakan janur kuning, kembang mayang, dan selainnya.
  3. Dalam toleransi dengan agama lain ada hari libur nasional karena hari raya Islam, hari raya Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan ada hari libur lainnya.Kemudian Islam Nusantara menjadi tema utama pada Muktamar NU ke 33 di Jombang. Munculnya istilah Islam Nusantara mengundang reaksi yang beragam, baik yang pro maupun yang kontra sejak sebelum muktamar digelar sampai sekarang. Karena itu, PW LBM NU Jawa Timur memandang sangat perlu membuat rumusan tentang Islam Nusantara secara objektif dan komprehensif dalam rangka menyatukan persepsi tentang Islam Nusantara.
  4. Pembahasan
  5. Maksud Islam Nusantara
Islam adalah agama yang dibawa Rasulullah Saw, sedangkan kata “Nusantara” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sebutan atau nama bagi seluruh kepulauan Indonesia. Wikipedia menambahkan, wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua itu, sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia.
Ketika penggunaan nama “Indonesia” (berarti Kepulauan Hindia) disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Pengertian ini sampai sekarang dipakai di Indonesia.
Sebenarnya belum ada pengertian definitif bagi Islam Nusantara. Namun demikian Islam Nusantara yang dimaksud NU adalah: a) Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya, yang di antara tujuannya untuk mengantisipasi dan membentengi umat dari paham radikalisme, liberalisme, Syi’ah, Wahabi, dan paham-paham lain yang tidak sejalan dengan Ahlussunnah wal Jamaah, sebagaimana tersirat dalam penjelasan Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah (h. 9):
فَصْلٌ فِيْ بَيَانِ تَمَسُّكِ أَهْلِ جَاوَى بِمَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ، وَبَيَانِ ابْتِدَاءِ ظُهُوْرِ البِدَعِ وَانْتِشَارِهَا فِي أَرْضِ جَاوَى، وَبَيَانِ أَنْوَاعِ المُبْتَدِعِيْنَ فِي هَذَا الزَّمَانِ. قَدْ كَانَ مُسْلِمُوْا الأَقْطَارِ الجَاوِيَّةِ فِي الأَزْمَانِ السَّالِفَةِ الخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الآرَاءِ وَالمَذْهَبِ وَمُتَّحِدِي المَأْخَذِ وَالمَشْرَبِ، فَكُلُّهُمْ فِي الفِقْهِ عَلَى المَذْهَبِ النَّفِيْسِ مَذْهَبِ الإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْس، وَفِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِي، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ الغَزالِي وَالإِمَامِ أَبِي الحَسَنِ الشَّاذِلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ.
Selain itu, Islam Nusantara menurut NU juga dimaksudkan sebagai b) metode (manhaj) dakwah Islam di bumi Nusantara di tengah penduduknya yang multi etnis, multi budaya, dan multi agama yang dilakukan secara santun dan damai, seperti tersirat dalam pernyataan Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori Tuban dalam Ahla al-Musamarah fi Hikayah al-Aulia’ al-‘Asyrah, (h. 23-24) saat menghikayatkan dakwah santun Sayyid Rahmad (Sunan Ampel):
ثم قال السيد رحمة أنه لم يوجد في هذه الجزيرة مسلم إلا أنا وأخي السيد رجا فنديتا وصاحبي أبو هريرة. فنحن أول مسلم في جريرة جاوه … فلم يزل السيد رحمة يدعون الناس إلى دين الله تعالى وإلى عبادته حتى أتبعه في الإسلام جميع أهل عمفيل وما حوله وأكثر أهل سوربايا. وما ذلك إلا بحسن موعظته وحكمته في الدعوة وحسن خلقه مع الناس وحسن مجادلتهم إياهم امتثالا لقوله تعالى: ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ الآية (النحل: 125) وقوله تعالى: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ (الحجر: 88)، وقوله تعالى: وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (لقمان: 17). وهكذا ينبغي أن يكون أئمة المسلمين ومشايخهم على هذه الطريقة حتى يكون الناس يدخلون في دين الله أفواجا.
Dalam kitab yang sama, Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori juga memaparkan dakwah Maulana Ishaq (paman Sunan Ampel) yang didahului dengan khalwat untuk riyadhah (tirakat) menjaga konsistensi mengamalkan syariat, baik ibadah fardhu maupun sunnah. Kemudian dengan karamahnya mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu putri Minak Sembayu Raja Blambangan Banyuwangi yang sedang sakit dan tidak dapat disembuhkan para Tabib saat itu, sehingga dinikahkan dengannya dan diberi hadiah separuh wilayah Blambangan. Jasa besar, posisi strategis, dan keistikamahan dakwahnya menjadi sebab keberhasilan dakwahnya mengislamkan banyak penduduk Blambangan, Banyuwangi (Ahla al-Musamarah, h. 24-26).
  1. Metode Dakwah Islam Nusantara
Sampai kini masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan tentang masuknya Islam di Nusantara. Di antara yang menjelaskannya adalah Ulama Nusantara Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori dalam Ahla al-Musamarah, Islam masuk ke Nusantara (Jawa secara lebih khusus) pada akhir abad keenam Hijriyyah, bersamaan dengan kedatangan Sayyid Rahmat dan Sayyid Raja Pandita dari Negeri Campa (Vietnam sekarang) ke Majapahit untuk menjenguk Bibinya Martanigrum yang menjadi istri Raja Brawijaya. Sementara menurut Sayyid Muhammad Dhiya’ Syahab, dalam ta’liqatnya atas kitab Syams azh-Zhahirah, Sayyid Ali Rahmat datang ke Jawa pada 751 H (1351 M). Meskipun demikian, semua sepakat bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan dakwah santun dan penuh hikmah.
Metode dakwah Islam Nusantara yang ramah, santun dan penuh hikmah, setidaknya meliputi metode dakwah Islam Nusantara masa Walisongo dan masa kekinian. Pertama, metode dakwah Islam Nusantara pada masa Walisongo sebagaimana tergambar dalam Ahla al-Musamarah fi al-Auliya’ al-‘Asyrah yang antara lain dengan:
a. Pendidikan: pendidikan agama Islam yang kokoh meliputi syariat, tarekat, dan hakikat sebagaimana pendidikan yang dilangsungkan oleh Sunan Ampel.
b. Kaderisasi: menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah, dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mampu menjadi pimpinan yang mengayomi sekaligus disegani di tengah masyarakatnya dan mampu mengajaknya untuk memeluk agama Islam, seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan Pamannya, Maulana Ishaq dalam mendidik anak-anak dan murid-muridnya.
c. Dakwah: konsistensi menjalankan dakwah yang ramah dan penuh kesantunan sebagaimana dakwah Walisongo sehingga menarik simpati dan relatif diterima masyarakat luas.
d. Jaringan: jaringan dakwah yang kokoh, sistematis, dan terorganisir, penyebaran murid-murid Sunan Ampel. Sunan Bonang di Lasem dan Tuban, Sunan Gunungjati di Cirebon, Sunan Giri di Tandes, Raden Fatah di Bintoro, Sunan Drajat di Lamongan dan Sedayu, dan selainnya.
e. Budaya: seperti pendirian masjid sebagai pusat peradaban Islam, seperti masjid Ampel, Masjid Demak.
f. Politik: politik li i’lai kalimatillah yang bersentral pada musyawarah ulama.
Referensi:
a. Ahla al-Musamarah, h. 14-48
b. Syams azh-Zhahirah, I/525
Kedua, metode dakwah Islam Nusantara di masa kini secara prinsip sama dengan metode dakwah di masa Walisongo, meskipun dalam strateginya perlu dilakukan dinamisasi sesuai tantangan zaman, dengan tetap berpijak pada aturan syar’i. Secara terperinci metode tersebut dapat dilakukan dengan:
  1. Berdakwah dengan hikmah, mau’izhah hasanah, dan berdialog dengan penuh kesantunan.
    b. Toleran terhadap budaya lokal tidak bertentangan dengan agama.
    c. Memberi teladan dengan al-akhlak al-karimah.
    d. Memprioritaskan mashlahah ‘ammah daripada mashlahah khasshah.
    e. Berprinsip irtikab akhaff ad-dhararain.
    f. Berprinsip dar’ al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih.
Ulama sepakat mashlahah yang dijadikan dasar adalah mashlahah yang punya pijakan syariat, sehingga mashlahah yang mengikuti hawa nafsu ditolak. Sebab, bila mashlahah dikembalikan kepada manusia maka standarnya akan berbeda-beda sesuai kepentingan masing-masing. Inilah yang melatarbelakangi rumusan fikih dikembalikan pada madzahib mudawwan (mazhab yang terkodifikasi). Allah Swt berfirman:
يُوصِيكُمُ اللهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ فَإِن كُنَّ نِسَاء فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِن كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِن كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلأُمِّهِ السُّدُسُ مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آبَآؤُكُمْ وَأَبناؤُكُمْ لاَ تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعاً فَرِيضَةً مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيما حَكِيمًا. (النساء: 11)وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ. (المؤمنون: 71).اَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُن مِّن الْمُمْتَرِينَ (آل عمران: 60)
Imam al-Ghazali dalam al-Mustashfa mengatakan, orang menganggap mashlahah tanpa dasar dalil syar’i maka batal. Beliau juga mengatakan, mashlahah yang dilegalkan syara’ adalah menjaga al-kulliyah al-khams, yakni:
a. Melindungi agama
b. Melindungi nyawa
c. Melindungi akal
d. Melilndungi keturunan
e. Melindungi harta.
Terkait mashlahah mursalah atau munasib mursal yang diutarakan Imam Malik, maka Fuqaha Syafi’iyyah, Hanafiyah dan bahkan Ashab Imam Malik sendiri telah melarang mencentuskan hukum dengan dalil mashlahah mursalah. Lalu apa maksud maslahah mursalah Imam Malik ini? Jika Imam Malik memang melegalkan mashlahah mursalah, maka ulama menginterpretasikan bahwa yang dimaksud Imam Malik adalah al-mashlahah ad-dharuriyyah al-kulliyyah al-qath’iyyah, bukan dalam setiap mashlahah. Seperti halnya dalam kondisi perang, tentara kafir menjadikan sejumlah orang Islam sebagai perisai, padahal andaikan mereka berhasil menerobos maka berakibat fatal karena dapat menguasai/menjajah negeri kaum Muslimin, sedangkan bila diserang jelas-jelas akan menjamin keamanan bagi kaum Muslimin yang lebih banyak, namun pasti mengorbankan sejumlah orang Islam yang dijadikan sebagai perisai tersebut. Dalam kasus ini, penyerangan terhadap mereka sangat ideal dan kemaslahatannya sangat nyata (termasuk kategori al-mashlahah ad-dharuriyyah al-kulliyyah al-qath’iyyah), meskipun tidak terdapat penjelasan dari syara’ apakah dii’tibar atau diilgha’kan. Dalam kasus ini Imam Malik membolehkan penyerangan dengan dalil mashlahah mursalah, tidak dalam semua mashlahah.
Cara mengaplikasikan kaidah maslahah dalam realitas saat ini adalah dengan:
a. Mengembalikannya pada dalil-dalil syariat.
b. Bemilah-milah antara hukum yang bersifat ta’abbudi (dogmatif) dengan hukum ta’aqquli (yang diketahui maksudnya).
c. Membedakan antara hikmah dan ‘illat.
Referensi:
a. Al-Bahr al-Madid, IV/95.
b. Tafsir al-Bahr al-Muhith, VI/48.
c. Al-Mahshul fi ‘Ilm al-Ushul, V/172-175.
d. Al-Mustashfa, VI/48.
e. Al-Ihkam, IV/160.
b. At-Taqrir wa at-Tahbir, III/149.
b. Tafsir al-Bahr al-Muhith, VI/48.
b. Tafsir al-Bahr al-Muhith, VI/48.
  1. Landasan dalam Menyikapi Tradisi/Budaya
Islam tidak anti terhadap tradisi/budaya, bahkan sebaliknya Islam akomodatif padanya. Hal ini setidaknya dapat dibuktikan dengan dua hal, yaitu berbagai ayat al-Qur’an dan hadits yang dalam redaksinya mengakomodir tradisi/budaya; dan beberapa tradisi/budaya jahiliyah menjadi ajaran Islam. Selain itu, dakwah Islam di Nusantara ketika berhadapan dengan berbagai tradisi/budaya bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan sebagaimana akan dijelaskan.
  1. Redaksi Ayat al-Qur’an dan hadits yang Mengakomodir Tradisi/Budaya Masyarakat
Pertama, ayat tentang riba:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (آل عمران :13)
Jika dipahahami dari makna literalnya, riba yang dilarang dalam ayat ini hanya riba yang berlipat-ganda, bukan riba yang sedikit. Tetapi tidak ada satupun pendapat Imam Mujtahid yang membolehkannya meskipun sedikit. Sebab kata أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً merupakan pengakomodasian budaya kafir jahiliyyah dimana saat itu mereka berlomba-lomba dan bangga dengan riba yang berlipat ganda.
Kedua, ayat tentang menikahi anak tiri:
وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنِ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُم (النساء: 23)
Secara literal ayat ini hanya menyebutkan keharaman menikahi anak tiri yang ibunya sudah disetubuhi jika anak tiri tersebut dirawat ayah tirinya. Tapi tidak ada satupun Imam Mujtahid yang menghalalkan orang menikahi anak tiri yang ibunya sudah disetubuhi, baik anak tersebut dirawat ayah tirinya ataupun tidak. Sebab penyebutan kata فِي حُجُورِكُمْ merupakan pengakomodasian budaya jahiliyyah dimana jika ada percerian maka anak perempuan mereka cenderung mengikuti ibunya meskipun harus hidup bersama ayah tiri, daripada mengikuti ayahnya tapi harus hidup bersama ibu tiri, karena biasanya yang kejam adalah ibu tiri bukan ayah tiri.
Ketiga, ayat tentang perempuan dan laki-laki jalang:
اَلْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. (النور: 26)
Dalam ayat ini pula, secara literal Allah menjelaskan bahwa wanita jalang untuk pria jalang, dan sebaliknya; dan wanita shalihah untuk pria shalih dan sebaliknya. Tapi dalam syariat tidak diharamkan wanita jalang bersuami pria shalih dan sebaliknya. Penjelasan ayat di atas hanya sekedar mengakomodir budaya, yakni orang-orang baik biasanya akan memilih orang-orang baik dan sebaliknya. Selain itu, masih banyak ayat redaksinya mengakomodir budaya, sehingga secara implisit mengajarkan agar melestarikan budaya.
Keempat, anjuran untuk menjaga etika daripada melaksanakan perintah yang tidak wajib. Meskipun ada hadits yang melarang berdiri karena kedatangan Nabi Saw, namun dalam hadits lain beliau membiarkan Hassan ra berdiri menghormatinya sesuai tradisi masyarakat Arab.
Bahkan di hadits lain beliau memerintahkan para sahabat untuk berdiri menghormati Mu’adz bin Jabal ra:
عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ بْنَ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِىَّ قَالَ نَزَلَ أَهْلُ قُرَيْظَةَ عَلَى حُكْمِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى سَعْدٍ فَأَتَاهُ عَلَى حِمَارٍ فَلَمَّا دَنَا قَرِيبًا مِنَ الْمَسْجِدِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَنْصَارِ « قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ – أَوْ خَيْرِكُمْ . (رواه مسلم)
Referensi:
a. Rawai’ al-Bayan, I/292-293 dan 1455.
b. I’anah at-Thalibin, III/305.
  1. Pengakomodiran Tradisi/Budaya Jahiliyah Menjadi Ajaran Islam
Pertama, tradisi puasa Asyura yang biasa dilakukan masyarakat Jahiliyah diakomodir menjadi kesunnahan dalam Islam.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِى إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ. (رواه مسلم)
Kedua, tradisi akikah yang pada masa Jahiliyah diakomodir menjadi kesunnahan dalam Islam, kecuali kebiasaan mengolesi kepala bayi dengan darah hewan akikah diganti dengan mengolesinya dengan minyak wangi.
عَن عبد الله بن بُرَيْدَة، عَن أَبِيه قَالَ: كُنَّا فِي الْجَاهِلِيَّة إِذا ولد لِأَحَدِنَا غُلَام ذبح شَاة ولطخ رَأسه بدمها، فَلَمَّا جَاءَ الله بِالْإِسْلَامِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً ونحلق رَأسه ونلطخه بزعفران. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْحَاكِم. صَحِيح)
Ketiga, ritual-ritual haji. Seperti thawaf yang sudah menjadi tradisi kaum Jahiliyyah dalam Islam ditetapkan sebagai salah satu ritual haji, namun dengan mengganti kebiasaan telanjang di dalamnya dengan pakaian ihram.
Keempat kebolehan untuk menerima hadiah makanan dari tradisi kaum Majuzi di hari raya mereka selain daging sembelihannya.
Referensi:
a. Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, VIII/9.
b. As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Ishaq, III/305.
c. Mushannaf Ibn Abi Syaibah, XII/249.
  1. Pendekatan Terhadap Tradisi/Budaya
Dalam tataran praktik dakwah Islam di Nusantara, ketika berhadapan dengan berbagai tradisi/budaya bisa digunakan empat pendekatan (approach), yaitu adaptasi, netralisasi, minimalisasi, dan amputasi.
Pertama pendekatan adaptasi, dilakukan untuk menyikapi tradisi/budaya yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syariat (tidak haram). Bahkan hal ini merupakan implementasi dari al-akhlaq al-karimah yang dianjurkan oleh Nabi Saw. Tradisi/budaya yang disikapi dengan pendekatan adaptasi mencakup tradisi/budaya yang muncul setelah Islam berkembang maupun sebelumnya. Seperti tradisi bahasa kromo inggil dan kromo alus dalam masyarakat Jawa untuk sopan santun terhadap orang yang lebih tua.
عن معاذِ بنِ جبلٍ رضي الله عنهما، عن رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ: اتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ وَأتْبعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، وَقالَ: حديث حسن)
Kedua pendekatan netralisasi, dilakukan untuk menyikapi tradisi/budaya yang di dalamnya tercampur antara hal-hal yang diharamkan yang dapat dihilangkan dan hal-hal yang dibolehkan. Netralisasi terhadap budaya seperti ini dilakukan dengan menghilangkan keharamannya dan melestarikan selainnya. Allah berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ. (البقرة: 200)
Dalam menjelaskan sabab an-nuzul ayat ini Imam Mujahid menyatakan, bahwa orang-orang Jahiliyah seusai melaksanakan ibadahnya biasa berkumpul dan saling membangga-banggakan nenek moyang dan nasab mereka yang jelas-jelas dilarang dalam Islam, kemudian turun ayat tersebut yang tidak melarang perkumpulannya namun hanya memerintahkan agar isinya diganti dengan zikir kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menganjurkan penghapusan tradisi/budaya secara frontal, namun menganjurkan untuk meluruskan hal-hal yang belum lurus saja.
Ketiga pendekatan minimalisasi, dilakukan untuk menyikapi budaya yang mengandung keharaman yang belum bisa dihilangkan seketika. Minimalisasi budaya semacam ini dilakukan dengan cara: a) mengurangi keharamannya sebisa mungkin, yaitu dengan menggantinya dengan keharaman yang lebih ringan secara bertahap sampai hilang atau minimal berkurang; b) membiarkannya sekira keharaman tersebut dapat melalaikan pelakunya dari keharaman lain yang lebih berat.
Keempat pendekatan amputasi, dilakukan untuk menyikapi budaya yang mengandung keharaman yang harus dihilangkan. Amputasi terhadap budaya semacam ini dilakukan secara bertahap, seperti terhadap keyakinan animisme dan dinamisme. Meskipun dilakukan dengan cara menghilangkan hingga ke akarnya, pendekatan ini dilakukan secara bertahap. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw dalam menyikapi keyakinan paganisme di masyarakat Arab menghancurkan fisik berhala-berhala, berikut berhala keyakinan, pemikiran, dan kebudayaannya. Tradisi tersebut berhasil dihilangkan, namun baru terlaksana secara massif pada peristiwa pembebasan kota Makkah (Fath Makkah) pada 630 M / 8 H, atau saat dakwah Islam telah berusia 21 tahun.
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال :دخل النبي صلى الله عليه و سلم مكة وحول البيت ستون وثلاثمائة نصب فجعل يطعنها بعود في يده ويقول: جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا. جاء الحق وما يبدئ الباطل وما يعيد. (رواه البخاري)
Referensi:
a. Mirqah Shu’ud at-Tasydiq fi Syarh Sulam at-Taufiq, 61.
b. Majma’ az-Zawa’id, VIII/347.
c. Asbab an-Nuzul karya al-Wahidhi, I/39.
d. Ihya ‘Ulum ad-Din, III/62.
e. I’lam al-Muwaqqi’in, III/12.
  1. Melestarikan Tradisi/Budaya Yang Menjadi Media Dakwah
Tradisi/Budaya yang telah menjadi media dakwah dan tidak bertentangan dengan agama, semestinya dilestarikan. Sebagaimana tradisi kirim doa untuk mayit pada hari ke tujuh, ke-40, ke-100, dan ke-1000 dari kematiannya, sebab tidak bertentangan dengan agama dan justru menarik masyarakat berkirim doa bagi orang-orang yang telah meninggal. Sebab jika tradisi ini dihilangkan, kebiasaan kirim doa juga akan ikut hilang atau berkurang.
Namun bila di tempat atau waktu tertentu tidak efektif dan justru kontra produktif bagi dakwah Islam di Nusantara, maka tradisi tersebut semestinya diubah secara arif dan bertahap sesuai kepentingan dakwah (dikembalikan pada prinsip mashlahah).
Referensi:
a. Referensi Metode Dakwah Islam Nusantara.
b. Nihayah az-Zain, 281.
c. Majma’ az-Zawa’id, VIII/347.
d. Al-Adam as-Syar’iyyah, II/114.
e. Ihya ‘Ulum ad-Din, III/62.
  1. Sikap dan Toleransi Terhadap Pluralitas Agama dan Pemahaman Keagamaan
  2. Sikap Terhadap Pluralitas Agama
Pertama, meyakini bahwa pluralitas agama (perbedaan agama, bukan pluralisme menyakini kebenaran semua agama) di dunia merupakan sunnatullah. Ini seharusnya yang menjadi asas dalam amr ma’ruf nahi munkar, sehingga jelas tujuannya untuk melakukan perintah Allah, bukan untuk benar-benar berhasil menghilangkan semua kemungkaran dari muka bumi yang justru dalam prosesnya sering melanggar prinsip-prinsipnya.
... وَلَوْ شَاء اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَآ آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (المائدة: 48)
Kedua, memperkuat keyakinan atas kebenaran ajaran Islam; tidak mengikuti ajaran agama lain dan menghindari memaki-maki penganutnya. Allah Swt berfirman:
وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّواْ اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُون. (الانعام: 108)
Ketiga, menolak dakwah yang bertentangan dengan Islam dengan cara terbaik dan bijaksana, serta menunjukkan kebaikan ajaran Islam. Allah Swt berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ. وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. (فصلت: 33-34)
Keempat, amr ma’ruf nahi munkar dengan arif dan bijaksana. Allah Swt berfirman:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. (النحل: 125)
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (البقرة: 44)
Referensi:
Mafatih al-Ghaib, XIII/114-116, III/44 dan 193, VIII/145, XX/112-114.
  1. Toleransi Terhadap Agama Lain
Toleransi terhadap agama lain yang berkembang di masyarakat merupakan keniscayaan, demi terbangunnya kerukunan antarumat beragama di tengah pluralitas. Bahkan Islam mengajarkan agar berpekerti baik terhadap semua manusia tanpa memilih-milih, terhadap orang yang seagama maupun tidak, dan terhadap orang shalih maupun sebaliknya. Al-Hakim at-Tirmidzi dalam Nawadir al-Ushul (III/97) mengatakan:
وقال صلى الله عليه وسلم: أوحى الله إلى إبراهيم عليه السلام يا إبراهيم حسن خلقك ولو مع الكفار تدخل مداخل الأبرار فإن كلمتي سبقت لمن حسن خلقه أن أظله في عرشي وأن أسكنه في حظيرة قدسي وأن أدنيه من جواري. وحسن الخلق على ثلاث منازل: أولها أن يحسن خلقه مع أمره ونهيه، الثانية أن يحسن خلقه مع جميع خلقه، الثالثة أن يحسن خلقه مع تدبير ربه فلا يشاء إلا ما يشاء له ربه.
Dalam rangka mendakwahkan agama Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, toleransi dapat dipraktikkan dengan menjalin mu’amalah zhahirah yang baik antarumat beragama, memberi jaminan keselamatan jiwa dan harta, serta tidak mengganggu pengamalan keyakinan lain selama tidak didemonstrasikan secara provokatif di kawasan yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam.
Namun demikian, penerapan toleransi kaum muslimin terhadap agama lain perlu memperhatikan batas-batasnya sebagaimana berikut:
1) Tidak melampaui batas akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, seperti rela dengan kekufuran, ikut meramaikan hari raya agama lain dengan tujuan ikut mensyiarkan kekufuran, dan semisalnya, kecuali dalam kondisi darurat.
2) Tidak melampaui batas syariat sehingga terjerumus dalam keharaman, seperti ikut datang ke tempat ibadah agama lain saat perayaan hari rayanya, mengundang pemeluk agama lain untuk menghadiri perayaan hari raya umat Islam, mengucapkan selamat hari raya kepada mereka dan semisalnya, kecuali dalam kondisi darurat.
Referensi:
a. Faidh al-Qadir, III/71.
b. Mafatih al-Ghaib, VIII/10-11.
c. Hasyiyyah al-Bujairami, V/183.
d. Qurrah al-‘Ain bi Fatawa Isma’il az-Zain, 199.
e. Qurrah al-‘Ain karya Muhammad Sulaiman al-Kurdi, 208-209.
f. Asna al-Mathalib, III/167.
g. Al-Hawi al-Kabir, XIV/330.
h. Qurrah al-‘Ain karya Muhammad Sulaiman al-Kurdi, 208-209.
i. Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, IV/239.
j. Al-Adab as-Syar’iyyah, IV/122.
k. Bughyah al-Mustarsyidin, I/528.
l. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XII/8.
  1. Toleransi Terhadap Pemahaman Keagamaan Selain Ahlusssunnah wal Jama’ah
Selain pluralitas agama, di Nusantara terdapat bermacam pemahaman keagamaan (akidah) dalam lingkungan Umat Islam, sehingga diperlukan toleransi terhadap kelompok umat Islam yang dalam masalah furu’iyyah maupun ushuliyyah berbeda pemahaman dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Secara prinsip toleransi dalam konteks ini tetap mengedepankan semangat Islam sebagai agama yang merahmati semesta alam dan al-akhlaq al-karimah, seperti halnya dalam toleransi antarumat beragama. Begitu pula dalam tataran praktiknya, batas-batas toleransi terhadap kelompok umat Islam yang tidak berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah sama dengan batas-batas dalam toleransi antarumat beragama, yaitu tidak boleh melampaui batas akidah dan syariat.
Toleransi dalam konteks ini tidak menafikan semangat dakwah untuk menunjukkan kebenaran (al-haqq) dan menghadapi berbagai syubhat (propaganda) yang mereka sebarkan, terlebih yang bersifat provokatif, mengancam kesatuan Umat Islam, integritas bangsa secara lebih luas.
عن معاوية بن حيدة قال : خطبهم رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال : حتى متى ترعون عن ذكر الفاجر هتكوه حتى يحذره الناس. (رواه الطبراني في الثلاثة وإسناد الأوسط والصغير حسن رجاله موثقون واختلف في بعضهم اختلافا لا يضر)
Selain itu, dalam menyikapi umat Islam yang tidak berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah perlu diperhatikan beberapa hal berikut:
1) Dalam melakukan amr ma’ruf nahi munkar kepada mereka tidak boleh sampai menimbulkan fitnah yang lebih besar, terlebih di daerah yang jumlah mereka seimbang dengan jumlah umat Islam Sunni. Dalam kondisi seperti ini amr ma’ruf nahi munkar wajib dikoordinasikan dengan pemerintah.
2) Tidak menganggap kufur mereka selama tidak terang-terangan menampakkan hal-hal yang telah disepakati (ijma’) atas kekufurannya, yaitu menafikan eksistensi Allah, melakukan syirk jali yang tidak mungkin dita’wil, mengingkari kenabian, mengingkari ajaran Islam yang bersifat mutawatir atau yang didasari ijma’ yang diketahui secara luas (ma’lum min ad-din bi ad-dharurah).
3) Meskipun salah dalam sebagian aqidahnya, selama tidak sampai kufur mereka masih mungkin diampuni Allah Swt.
4) Dalam ranah individu, penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah tidak boleh beranggapan pasti masuk surga karena amalnya, sedangkan yang lain pasti masuk neraka. Sebab, sekecil apapun setiap individu mempunyai dosa dan jika tidak diampuni bisa saja kelak masuk neraka.
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ. إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. (القصص: 55-56)
وَلِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ. (ال عمران: 129)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لَنْ يُنْجِىَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ». قَالَ رَجُلٌ وَلاَ إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا ». (رواه مسلم)
Referensi:
a. Hasyiyyah al-Bujairami, V/183.
b. Al-jami’ as-Shaghir, I/85.
c. Majma’ az-Zawa’id, I/375.
d. Al-Milal wa an-Nihal, II/321-322.
e. Mafahim Yajib an-Tushahhah, 18-19.
  1. Konsistensi Menjaga Persatuan untuk Memperkokoh Integritas Bangsa
NKRI dan Pancasila selain telah terbukti mampu menjadi perekat bangsa sejak kemerdekaan hingga sekarang, juga mampu menjadi wadah dakwah Islam Nusantara secara luas. Pertumbuhan muslim di kawasan-kawasan mayoritas non muslim juga semakin meningkat. Namun demikian, di tengah perjalanan sejarah tantangan disintegrasi bangsa terkadang bermunculan, bahkan wacana mendirikan negara di dalam negara terus mengemuka. Sebab itu, internalisasi nilai-nilai kebangsaan, khususnya terkait NKRI dan Pancasila sebagai upaya final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan keharusan. Berkenaan dengan itu perlu disadari, bahwa penerimaan Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara telah sesuai dengan spirit piagam Madinah yang digagas oleh Rasulullah Saw, yang berhasil menyatukan masyarakat yang plural dalam satu kesatuan negeri Madinah.
Sebagaimana diriwayatkan Ibn Ishaq dalam as-Sirah an-Nabawiyah (II/126-129) karya Ibn Hisyam, Piagam Madinah di antaranya menyatakan:
بِسْمِ اللهِ الرّحْمَنِ الرّحِيمِ. هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمّدٍ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ مِنْ قُرَيْشٍ وَيَثْرِبَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَلَحِقَ بِهِمْ وَجَاهَدَ مَعَهُمْ، إِنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُونِ النّاسِ … وَإِنّهُ مَنْ تَبِعَنَا مِنْ يَهُودَ فَإِنّ لَهُ النّصْرَ وَالْأُسْوَةَ غَيْرَ مَظْلُومِينَ وَلَا مُتَنَاصَرِينَ عَلَيْهِمْ … وَإِنَّ يَهُودَ بَنِي عَوْفٍ أُمَّةٌ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ. لِلْيَهُودِ دِينُهُمْ وَلِلْمُسْلِمَيْنِ دِينُهُمْ وَمَوَالِيهِمْ وَأَنْفُسُهُمْ إلّا مَنْ ظَلَمَ وَأَثِمَ فَإِنّهُ لَا يُوتِغُ إلّا نَفْسَهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ … وَإِنَّ عَلَى الْيَهُودِ نَفَقَتَهُمْ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ نَفَقَتَهُمْ وَإِنَّ بَيْنَهُمْ النَّصْرَ عَلَى مَنْ حَارَبَ أَهْلَ هَذِهِ الصَّحِيفَةِ. وَإِنَّ بَيْنَهُمْ النَّصْحَ وَالنَّصِيحَةَ وَالْبِرَّ دُونَ الْإِثْمِ، وَإِنّهُ لَمْ يَأْثَمْ امْرِئِ بِحَلِيفِهِ، وَإِنّ النّصْرَ لِلْمَظْلُومِ، وَإِنَّ الْيَهُودَ يُنْفِقُونَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ مَا دَامُوا مُحَارِبِينَ، وَإِنّ يَثْرِبَ حَرَامٌ جَوْفُهَا لِأَهْلِ هَذِهِ الصّحِيفَةِ … وَإِنَّ بَيْنَهُمْ النّصْرَ عَلَى مَنْ دَهَمَ يَثْرِبَ، وَإِذَا دُعُوا إلَى صُلْحٍ يُصَالِحُونَهُ …
Dari Piagam Madinah dapat diambil spirit, bahwa Nabi Muhammad Saw menyatukan warga yang multi etnis dan multi agama menjadi ummah wahidah (satu kesatuan bangsa). Semua warga punya kedudukan yang sederajat, sama-sama berhak mendapatkan jaminan keamanan, melakukan aktifitas ekonomi, mengaktualisasikan agama, sama-sama berkewajiban untuk saling memberi nasehat dan berbuat kebaikan, menjaga keamanan serta integritas Madinah sebagai satu kesatuan negeri menghadapi ancaman dari luar.
Selain itu, untuk memupuk persatuan di tengah masyarakat yang plural perlu ditanamkan sikap menghargai perbedaan dan menjaga hak antarsesama, di antaranya dengan:
a. Menghargai ajaran agama lain.
b. Melestarikan budaya dari suku dan agama apa pun selama tidak bertentangan dengan syariat.
c. Mengapresiasi kebaikan/kelebihan orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri.
d. Menghindari caci-maki terhadap orang lain karena alasan perbedaan.
e. Menghindari anggapan menjadi orang yang paling baik dan menganggap orang lain tidak baik, sehingga mengabaikan kewajiban berbuat baik.
f. Membiasakan berbuat kebajikan terhadap siapapun.
g. Memprioritaskan penanaman nilai-nilai agama secara utuh dan mendalam di lingkungan internal Ahlussunah wal Jamaah.
وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّواْ اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ (سورةا لانعام اية 108)
َلِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (ال عمران: 129)
عن ابن عمر أن غيلان بن سلمة الثقفي أسلم تحته عشر نسوة فقال له النبي صلى الله عليه و سلم: اختر منهن أربعا … (رواه ابن حبان. صحيح )
حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ . حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنِ ابْنِ الْهَادِ عَنْ سَعْدٍ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللّهِ قَالَ: «مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ. يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ . وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ». (رواه ابن حبان. مسلم)
َلِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (ال عمران: 129)
Referensi:
a. Al-Hawi al-Kabir, XIV/330.
b. Risalah al-Qusyairiyah, I/103.
c. Ihya ‘Ulum ad-Din, II/212.
d. Al-Majalis as-Saniyyah, 87.

File Download di bawah ini:
 
Sumber : aswajanucenterjatim.com

Rabu, 28 Oktober 2015

Maulid Nabi Bag. 1: Ghazirah dan Anjuran Bergembira

   Dalam  diri  setiap  manusia  terdapat  naluri (Gharizah)  yang  memang  melekat (dimiliki) pada diri setiap makhluk hidup termasuk manusia. Manusia memiliki tiga macam gharizah (naluri) yaitu gharizah tadayyun, gharizah baqa’ dan gharizah an‐nauw’.  Gharizah  (naluri)  tidak  bisa  dhilangkan namun  hanya bisa disalurkan dengan benar sesuai ketentuan‐ketentuan syara’.

     Perasaan  cinta  dan  kasih  sayang  terhadap  orang  lain  merupakan  bagian  dari gharizah  (naluri)  annau’ manusia  yang  tidak  bisa  dihilangkan  namun  perasaan cinta  tersebut  harus  disalurkan  dengan  benar. Demikian  juga  dengan  gharizah tadayyun  (taqdis).  Penyaluran  gharizah  tadayyun  pun  memang  harus benar. Semuanya harus berdasarkan pada pertimbangan syara’, tidak boleh ‘ngasal’.

     Mengagungkan  sesuatu  yang  lebih  hebat  atau  yang  dianggap  memiliki  kelebihan adalah bagian dari naluri tadayyun ini. Amal ibadah yang kita lakukan merupakan implementasi dari bekerjanya gharizah tadayyun dengan baik, serta sifat manusia yang  merasa  bahagia  terhadap  orang  yang  dicintainya  maupun kehadiran  orang yang dicintainya merupakan bagian dari gharizatun nau’ yang juga bekerja dengan baik. 

      Rasa  gembira  kita  sebagai  manusia  (umat  Islam)  dengan  kehadiran  Baginda  Nabi Muhammad Shallahu  ‘alayhi  wa  sallam  sebagai  pelita  didunia  ini, khatamannabiyyin  wa  sayyid  al‐mursalin,  tidak lain  adalah  dorongan  dari  adanya gharizatun  nau’.  Hal  ini  wajar  sebagai  manusia  yang  normal, selama bisa disalurkan  dengan  baik  selaras  dengan  ketentuan  syara’.  Banyak  cara  untuk mensyukuri dan menyalurkan  rasa  cinta  kita  kepada  Sang  Baginda  atas kelahirannya  ke  alam  semesta  ini  dan banyak cara  untuk  mengungkapkan  rasa kegembiran terhadap kehadiran Manusia pilihan ini. 

     Didalam  al‐Qur’an,  Allah  SWT  memang  telah  menjadikan  hari  dimana  para  Nabi dilahirkan kedunia sebagai hari yang berbeda dengan hari yang lain. Bahkan Allah hendak  menggembirakan  umat manusia dengan  lahirnya  seorang  Nabi.  Serta kejadian‐kejadian  luar  biasa  Allah  munculkan  sebagai  tanda  kelahiran  (Maulid) Nabi Muhammad shallahu’alaihi wa sallam.

“{Kesejahteraan}  dari  Kami  {atas  dirinya  pada  hari  ia  dilahirkan  dan  pada hari  ia  meninggal  dan pada  hari  ia  dibangkitkan  hidup  kembali’}  (QS. Maryam 19 : 15, Jalalain)

“{Dan  kesejahteraan}  dari  Allah  {semoga  dilimpahkan  kepadaku,  pada  hari aku  dilahirkan,  pada  hari aku  meninggal  dan  pada  hari  aku  dibangkitkan hidup kembali}” (QS. Maryam 19 : 33, Jalalain)
“Dan  Kami  beri  dia  kabar  gembira  dengan  (kelahiran)  Ishaq  seorang  nabi yang termasuk orang‐orang yang saleh” (QS. Ash‐Shaaffat 37 : 112)
Berbagai kejadian ajaib, dijelaskan didalam kitab “Anwarul Muhammadiyah” (Dar Kutub Ilmiyah, Lebanon) hal 19 ;

“Dan sebagian dari keajaiban‐ajaiban kelahiran Nabi (ملسو هيلع ﷲ ىلص), yaitu apa  yang  diriwayatkan tentang  keruntuhan  singgasana  kaisar  Kisra, hancurnya  14  Syurfah  (jendela  besar)  dari  syurfah‐syurfah yang  ada  di Kisra,  …,  dan  padamnya  api  Farisi  (Persia),  padahal  api  tersebut  1000 tahun tidak pernah padam sebagaimana yang diriwayatkan orang banyak, …,  dan  lahirnya  Nabi  (ملسو هيلع ﷲ ىلص) dalam  keadaan  dikhitan  dan  ceria sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan yang lainnya, dan dari Anas  ra  ,  sesungguhnya  Nabi  (ملسو  هيلع  ﷲ  ىلص)  bersabda,  “sebagian  dari karomahku atas (kehendak) Rabbku bahwa sesungguhnya aku dilahirkan dalam keadaan khitan...”

“dan  dari  Ibnu  Abbas  rahiyallahu  ‘anhumaa,  Nabi  (ملسو  هيلع  ﷲ  ىلص) dilahirkan  pada  hari  senin, diangkat  jadi  Nabi  pada  hari  senin,  keluar berhijrah  dari  Mekkah  menuju  Madinah  pada  hari  senin, dan  masuk Madinah  pada  hari  senin,  dianggkatnya  al‐hajar  pada  hari  senin,  dan demikian  juga  fathu (pembebasan  kota)  Mekkah  dan  turunnya  surat  Al‐Maidah pada hari senin”
     Maka  wajar  saja  jika  umat  Islam  yang  mengaku  sebagai  umat  Nabi  Muhammad bergembira akan dilahirkannya Beliau ke semesta alam ini dan bersyukur atasnya. Kemudian  merayakannya  setiap  waktu, setiap  kesempatan  yang  didalamnya  ada perasaan  gembira,  kesenangan  dan  semangat  dalam mencintai maupun kebersamaan  yang  tidak  hanya  dihari  kelahiran  beliau  yaitu  hari  Senin  (Rabi’ul Awwal). Namun,  tentunya  lebih‐lebih  dihari  kelahiran  Beliau,  maka  perasaan kegembiraan,  kesenangan  dan semangat  tersebut  akan  semakin  menyala‐nyala dalam  mengingat  dan  mentauladani  serta  mempelajari kisah  perjalanan  hidup Beliau  untuk diimplementasikan  dalam  kehidupan.  Sebab  Beliau  adalah  karunia terindah dan teragung yang telah Allah berikan kepada umat manusia.
    “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang‐orang yang beriman ketika  Allah  mengutus diantara mereka  seorang  rasul  dari  golongan mereka  sendiri,  yang  membacakan  kepada  mereka  ayat‐ayat Allah,membersihkan  (jiwa)  mereka,  dan  mengajarkan  kepada  mereka  Al  Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu,  mereka adalah benar‐benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali Imran 3 : 164)

     Kegembiran  karena  kehadiran  beliau  (ملسو  هيلع  ﷲ  ىلص)  merupakan  sesuatu  yang oleh al‐Qur’an, sebagaimana firman Allah :

    “Katakanlah:  "Dengan  kurnia  Allah  dan  rahmat‐Nya,  hendaklah  dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat‐Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS. Yunus 10 : 58)

    Allah telah memerintahkan kita untuk bergembira dengan rahmat‐Nya, karena itu lebih  baik  dari  apa saja yang  kita  kumpulkan  (miliki),  sedangkan  kita  tahu  bahwa Nabi (ملسو هيلع ﷲ ىلص) adalah rahmat bagi semesta alam ini.

    “Dan  tiadalah  Kami  mengutus  kamu,  melainkan  untuk  (menjadi)  rahmat bagi semesta alam” (QS. Al‐Anbiyaa’ 21 : 107)

    Hal  ini  diperkuat  dengan  pernyataan  dari  Al‐Imam  Ibnu  Abbas  ra  tentang  surat  Yunus ayat 58, ia berkata : 
“Al‐fadhl  (karunia)  adalah  ilmu  dan  ar‐Rahmah  adalah  Muhammad shallallahu  ‘alayhi  wa  sallam”   [Tafsir  al‐Bahr  al‐Muhith  (طيحملا  رحبلا  ريسفت), lihat juga (شيفطا ريسفت)] Peringatan  Maulid  Nabi  juga yang  didalamnya  terdapat  pembacaan  ayat  suci  Al‐Qur’an,  Shalawat  Nabi,  dibacakan  kisah‐kisah kenabian  (mukjizat,  sirah  dan pribadi  Nabi)  yang  bisa  diambil  pelajaran  untuk  diteladani.  Hidangan yang diberikan  kepada  hadirin  juga  merupakan  shadaqah  yang  sangat  dianjurkan. Didalam  peringatan tersebut,  juga  dibacakan  syair‐syair  dan  qashidah  pujian kepada  Baginda  Rasulullah  (ملسو  هيلع  ﷲ  ىلص).  Diisi  dengan  tausiyah‐tausiyah (nasehat),  dimana  majelis  Maulid  tersebut  juga  bisa  dijadikan sebagai  sarana memberikan  solusi  terhadap  permasalahan  umat  Islam.  Semua  itu  memiliki landasan dalam syari’at Islam.

    “Sesungguhnya  Allah  dan  malaikat‐malaikat‐Nya  bershalawat  untuk  Nabi  . Hai  orang‐orang  yang beriman,  bershalawatlah  kamu  untuk  Nabi  dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al‐Ahzab 33 : 66)

    “Dan semua kisah dari rasul‐rasul Kami  ceritakan  kepadamu, ialah kisah‐kisah  yang dengannya  Kami  teguhkan  hatimu  ;  dan  dalam  surat  ini  telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang‐orang yang beriman” (QS. Huud 11 : 120)
    “maka  aku  mendengar  Abbas  bin  Abdul  Muttalib  berkata,  “ya  Rasulullah, sesungguhnya  aku  ingin menyanjungmu”,  maka  Rasulullah  berkata  ;“Katakanlah …”. Maka sayyidina Abbas membaca (diantara isi syairnya) : .. قفلأا كرونب تءاضو ضر لأا تقرشأ تدلو امل تنأو

    “Dan engkau (wahai Rasulullah) pada saat hari engkau dilahirkan, terbitlah cahaya  bumi  hingga  bersinar terang  hingga  ufuk  pun  bercahaya  dengan cahayamu.” 
قرتخن داشرلا لبسو رونلا يفو ءايضلا كلذ يف نحنف

    “Maka  kami  (saat  ini)  didalam  naungan  sinar  dan  berada  dalam  cahaya serta  jalan  yang  mulya  yang kami  terus  mendalaminya”(Al‐Mustadrak  ala asy‐Shahihaiyn (نيحيحصلا ىلع كردتسملا) No. 5417, Al‐Imam Hakim ( دبع نب دمحم يروباسينلا  مكاحلا  ﷲ  دبع  وبأ  ﷲ),  Dar  al‐Kitab  al‐Ilmiyah,  Beirut  (  ‐  ةيملعلا  بتكلا  راد توريب))

نب نايفس انثدح ورمع لاق نايفس نع مھلك رمع يبأ نباو ميھاربإ نب قاحسإو دقانلا ورمع انثدح
دجسملا يف رعشلا دشني وھو ناسحب رم رمع نأ ةريرھ يبأ نع ديعس نع يرھزلا نع ةنييع
تعمسأ ﷲ كدشنأ لاقف ةريرھ يبأ ىلإ تفتلا مث كنم ريخ وھ نم هيفو دشنأ تنك دق لاقف هيلإ ظحلف
معن مھللا لاق ؟ سدقلا حورب هديأ مھللا ينع بجأ لوقي ملس و هيلع ﷲ ىلص ﷲ لوسر

     “Sesungguhnya  Umar  menegur  Hasan  yang  sedang  menyanyikan (melantunkan) syair didalam Masjid, maka (Hasan) berkata : “Sungguh aku telah  melantunkan  (sya’ir)  ini  dihadapan  orang  yang  lebih baik dari engkau  (yaitu  Rasulullah).  Kemudian  Hasan  berpaling  kepada  Abu Hurairah,  maka berkata bukankah  saat  melantunkan  (syair)  Rasulullah mendengarkanku  seraya  berkata  menjawabnya dariku, “ya  Allah  bantulah ia  dengan  (kekuasaan)  ruhul  Qudus  ?  berkata  (Abu  Hurairah)  ;  ya  Allah… benar”.” [Shahih Muslim No. 2485, توريب - يبرعلا ثارتلا ءايحإ راد]

    Semua  yang  dilakukan  dalam  peringatan  Maulid  Nabi  pada  dasarnya  merupakan anjuran yang menghantarkan kita untuk semakin mencintai Rasulullah. Dan segala sesuatu  yang  dapat  menghantar kepada  sesuatu  yang  dianjurkan  oleh  syari’at maka  hukumnya  sama  dengan  yang  dianjurkan.  Sesuai dengan  kaidah  berikut  ini serta  kebaikan  apapun  tidak  ada  yang  disia‐siakan  disisi  Allah  Subhanahu wa ta’alaa.  Didalam  peringatan  Maulid  Nabi  tidak  ada  pembicaraan  kotor,  yang  ada hanya pembicaraan (ucapan) yang semua mengandung hikmah.

دصاقملا ماكحأ ىطعت لئاسولا

 “Semua  sarana  suatu  perbuatan  hukumnya  sama  dengan  tujuannya  ( perbuatan tersebut )”

نيِنسحملا رجَأ عيضُي َلا َﷲ نِإ

“Sesungguhnya  Allah  tidak  menyia‐nyiakan  pahala  orang‐orang  yang berbuat baik” (QS. At‐Taubah : 120)

ُهعَفرَي حِلاصلا لمعلاو بﱢيﱠطلا مِلكلا دعصَي هيَلِإ ًاعيمج ُةزعلا هﱠلِلَف َةزعلا ديرُي ناك نم

  “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah‐lah kemuliaan itu semuanya. Kepada‐Nyalah  naik  perkataan‐perkataan  yang baik dan amal yang saleh dinaikkan‐Nya”(QS. Al Fathir : 10)

     Dan  sangat  tidak  pantas  bagi  orang  yang  berakal  yang  mengaku  sebagai  umat Baginda  Rasulullah Muhammad    kemudian  bertanya  kepada  orang  yang merayakan  Maulid  Nabi,  dengan  berkata, “kenapa  kalian  merayakan  Maulid  Nabi ?”.  Pertanyaan  ini  sama  saja  dengan  menanyakan, “Kenapa kalian  bergembira dengan  kelahiran  Nabi  Muhammad  Shallahu  ‘alayhi  wa  sallam  ?”. Seolah‐olah  ia juga bertanya, “Kenapa kalian merasa gembira dan bahagia karena orang yang di Isra’kan  dan  di Mi’raj‐kan  ini  ?”.  Apakah  pantas  pertanyaan  seperti  itu  muncul dari  seorang  Muslim  yang berakal,  yang telah  bersaksi  bahwa  tiada  ilah  selain Allah dan telah bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah ?”

     Pertanyaan  seperti  diatas  adalah  pertanyaan  basi  yang  memang  tidak memerlukan  jawaban.  Cukuplah bagi  orang  yang  ditanya  menjawabnya  dengan,“kami  merayakannya  sebab  kami  senang dan  gembira dengan  kelahiran  sang Baginda  Nabi  Muhammad  dan  kami  cinta  kepada  Beliau,  kecintaan  kami kepada Beliau sebab kami adalah Mukmin”.  

Sumber : Maulid Ar Rosul Sebuah Ungkapan Cinta disusun Oleh Abdurrohim Ats-Tsaury